Ada perjalanan yang tidak selalu dapat dibaca dari sampul sebuah jurnal. Ada peluh yang tidak tercatat dalam metadata. Ada malam-malam panjang yang tidak pernah masuk dalam indeks sitasi. Ada kesetiaan sunyi yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah menunggu naskah selesai disunting, menunggu jurnal selesai dicetak, menunggu paket datang, menunggu surat keputusan akreditasi, dan menunggu kabar baik yang kadang datang setelah bertahun-tahun diuji oleh waktu.
Bagi saya, Istinbath: Jurnal Hukum bukan sekadar media publikasi ilmiah. Ia adalah ruang belajar, ruang pengabdian, ruang kesabaran, sekaligus ruang batin tempat banyak harapan ditanam. Perjalanan saya bersama Istinbath bermula pada tahun 2012, ketika pertama kali saya masuk ke Fakultas Syariah dan mulai dipercaya untuk ikut mengelola jurnal ini. Saat itu, dunia penerbitan jurnal belum secepat hari ini. Istinbath masih terbit dalam bentuk cetak. Setiap enam bulan sekali, jurnal dicetak di Yogyakarta, lalu dikirim melalui paket. Kami mengambilnya di agen bus, membuka dus demi dus, mencium aroma kertas baru, lalu menyiapkan distribusi kepada para penulis.
Pada masa itu, oplah cetak Istinbath bisa mencapai 300 eksemplar. Setiap penulis memperoleh dua eksemplar. Sisanya dikirim melalui pos ke berbagai alamat, ke kampus-kampus, perpustakaan, kolega akademik, dan jejaring keilmuan. Betapa sederhana, tetapi betapa berartinya proses itu. Hari ini, ketika satu artikel dapat diakses hanya dengan sekali klik, saya masih mengingat masa ketika sebuah jurnal harus menempuh perjalanan fisik: dari percetakan, ke agen bus, ke kantor fakultas, ke amplop cokelat, lalu ke tangan pembaca.
Sebelum saya ikut mengelola, Istinbath telah dirawat oleh para dosen hebat dan pengelola terdahulu di Fakultas Syariah. Mereka adalah para perawat awal, orang-orang yang menanam fondasi, menjaga marwah, serta memastikan Istinbath tetap hadir sebagai rumah bagi gagasan hukum Islam dan hukum pada umumnya. Banyak unsur akademik di Fakultas Syariah turut memberi kontribusi, baik sebagai reviewer, editor, pengarah, maupun pengambil kebijakan. Dari merekalah semangat awal Istinbath tumbuh: sederhana dalam perangkat, tetapi besar dalam cita-cita keilmuan.
Saat itu Istinbath telah memiliki P-ISSN, tetapi belum memiliki E-ISSN, apalagi terakreditasi. Namun, satu hal yang selalu saya ingat: naskah-naskah yang pernah terbit di Istinbath memiliki kedalaman narasi yang luar biasa. Saya membaca satu per satu. Tidak cukup sekali. Berkali-kali saya membaca setiap naskah, setiap lembar, setiap paragraf, setiap kalimat, bahkan mengeja tiap kata. Bukan semata-mata untuk memahami isi tulisan, tetapi untuk menangkap ruhnya. Saya ingin memahami pesan yang diwariskan oleh para pengelola sebelumnya, agar setiap terbitan baru tidak memutus mata rantai nilai yang telah dibangun.
Mengelola jurnal, bagi saya, bukan hanya soal menyusun artikel dalam satu edisi. Ia adalah pekerjaan untuk menjaga kesinambungan ingatan akademik. Ada tanggung jawab moral agar jurnal tidak kehilangan wajah, tidak kehilangan arah, dan tidak tercerabut dari sejarahnya. Istinbath telah berjalan sebelum saya datang. Maka ketika saya ikut mengelola, saya merasa bukan sedang memulai dari nol, melainkan sedang meneruskan amanah yang sudah lebih dahulu dirintis dengan cinta dan ketekunan.
Dalam ikhtiar meningkatkan derajat jurnal, proses akreditasi pun diajukan. Borang disusun berdasarkan instrumen akreditasi jurnal. Saat itu, borang masih dicetak tebal, sangat tebal. Berkas-berkas disusun, dilengkapi, dipastikan, lalu dibawa langsung ke Kemendikti. Saya masih ingat betul bagaimana tiga dus besar berisi borang dan oplah cetak jurnal itu didorong menggunakan troli. Entah di lantai berapa persisnya ruang publikasi akreditasi jurnal itu berada, tetapi saya masih mengingat suasananya: mengangkatnya dari bagasi taksi, memasuki lorong, menaiki lift, tumpukan kertas, harapan, dan doa yang diam-diam saya selipkan di antara dus-dus besar itu.
Setelah beberapa bulan menunggu, hasil akreditasi akhirnya datang. Bukan melalui sistem daring seperti sekarang, melainkan melalui surat yang dikirim lewat pos. Surat itu dibuka dengan perasaan yang campur aduk: harap, cemas, dan pasrah. Hasilnya, Istinbath belum lulus akreditasi. Kekurangannya hanya tiga poin, terutama pada aspek substansi. Rasanya tentu tidak mudah. Tetapi dari kegagalan itulah kami belajar bahwa mengelola jurnal tidak cukup hanya dengan semangat. Ia membutuhkan standar, konsistensi, tata kelola, jejaring, substansi yang kuat, dan kesabaran yang panjang.
Waktu terus bergerak. Sistem penerbitan jurnal pun berubah. Era cetak perlahan bergeser menuju sistem daring. Jurnal harus hadir secara online melalui Open Journal System. Pengajuan akreditasi juga berubah mengikuti ekosistem baru. Kami semua dipaksa belajar kembali. Tidak ada pilihan selain beradaptasi. Dari dunia amplop, pos, dus, dan troli, kami memasuki dunia metadata, template, DOI, reviewer daring, editorial workflow, dan sistem indeksasi.
Pada tahun 2017, saya melanjutkan studi. Pengelolaan Istinbath kemudian dilanjutkan oleh tim manajemen Fakultas Syariah. Saya berada pada jarak tertentu dari dapur pengelolaan, tetapi hati saya tidak pernah benar-benar pergi dari jurnal ini. Saya tetap menyimpan kenangan tentang setiap edisi, setiap proses, dan setiap harapan yang pernah ditanam.
Pada tahun 2020, saya menyelesaikan studi dan kembali ke kampus. Takdir akademik membawa saya kembali pada Istinbath. Saya kembali diberi amanah untuk mengelola jurnal ini. Tentu suasananya sudah berbeda. Dunia jurnal telah berubah. Standar semakin tinggi. Persaingan semakin ketat. Ekspektasi semakin besar. Namun, di balik semua perubahan itu, saya masih merasakan denyut yang sama: Istinbath tetap menjadi ruang pengabdian yang harus dirawat dengan kesungguhan.
Bahkan, saya pernah menulis status yang lahir dari kedekatan batin dengan jurnal ini: "denyut nadi dan detak jantungku, sudah berubah menjadi Istinbath, Istinbath, Istinbath". Kalimat itu bukan sekadar ungkapan emosional. Ia adalah kesaksian kecil tentang betapa jurnal ini menyatu dengan ritme kerja, pikiran, kegelisahan, doa, dan harapan. Ada masa ketika hampir setiap hari yang dipikirkan adalah Istinbath; yang dibicarakan adalah Istinbath; yang dibenahi adalah Istinbath; yang didoakan pun Istinbath.
Bersama tim pengelola di rumah jurnal, saya kembali belajar. Kami berdiskusi, membenahi sistem, memperkuat jejaring reviewer, merapikan manajemen penerbitan, meningkatkan kualitas artikel, memperluas orientasi akademik, dan terus berkolaborasi. Tidak semua proses mudah. Ada lelah, ada revisi, ada penolakan, ada evaluasi, ada pekerjaan teknis yang tidak terlihat, ada komunikasi yang harus dijaga, ada standar yang harus dipenuhi, dan ada doa yang terus dipanjatkan.
Hingga akhirnya, dengan penuh rasa syukur, Istinbath berlabuh di Scopus. Kalimat ini pendek, tetapi perjalanan menuju ke sana sangat panjang. Ia bukan capaian yang jatuh dari langit. Ia adalah hasil dari sejarah panjang, kerja kolektif, ketekunan para pengelola terdahulu, dukungan fakultas, kontribusi para penulis, ketelitian reviewer, kesabaran editor, dan kolaborasi banyak pihak yang mencintai ilmu pengetahuan.
Ada satu hal yang membuat momen ini terasa sangat personal bagi saya. Proses input data ke Scopus dilakukan tepat pada tanggal 04 Desember, hari lahir saya. Barangkali itu hanya kebetulan. Tetapi bagi hati yang sedang belajar membaca tanda-tanda kebaikan, kebetulan itu terasa seperti berkah kecil yang Allah titipkan dalam perjalanan panjang ini. Seolah-olah ada pesan lembut bahwa setiap amanah yang dijalani dengan sabar akan menemukan dermaganya sendiri.
Proses itu berlangsung dalam rentang waktu yang tidak singkat. Dari tanggal 04 Desember 2025, saat Istinbath submit ke Scopus, hingga akhirnya dinyatakan accepted pada 12 Juli 2026, terbentang perjalanan selama 7 bulan 8 hari. Jika dihitung dalam satuan hari, masa penantian itu mencapai 220 hari, atau 31 minggu 3 hari. Dalam hitungan yang lebih rinci, perjalanan itu setara dengan 5.280 jam, 316.800 menit, bahkan 19.008.000 detik.
Angka-angka itu bukan sekadar hitungan kalender. Di dalamnya ada masa menunggu, memeriksa, berharap, berdoa, dan menjaga keyakinan agar tidak padam. Selama lebih dari tujuh bulan itu, setiap hari seakan menjadi ruang jeda antara ikhtiar dan kabar baik. Hingga akhirnya, pada 12 Juli 2026, penantian panjang itu berlabuh pada satu kabar yang membahagiakan: Istinbath diterima oleh Scopus.
Perjalanan dari submit hingga accepted bukan hanya perjalanan administratif, melainkan perjalanan batin yang panjang: 220 hari merawat harapan, 5.280 jam menjaga doa, 316.800 menit menunggu dengan sabar, dan 19.008.000 detik mempercayai bahwa kerja akademik yang dirawat dengan sungguh-sungguh akan menemukan dermaganya.
Sebagai bagian dari ikhtiar merawat ingatan, saya menuliskan sejarah dan orientasi Istinbath di laman OJS, tepatnya di Journal History. Bukan untuk merayakan diri, melainkan untuk menyimpan jejak. Agar kelak siapa pun yang membaca, mengelola, atau meneruskan jurnal ini mengetahui bahwa Istinbath tidak tumbuh secara tiba-tiba. Ia dibesarkan oleh banyak tangan, didoakan oleh banyak hati, dan dijaga oleh orang-orang yang percaya bahwa ilmu harus memiliki rumah yang layak.
Kini, ketika Istinbath telah berlabuh di Scopus, saya justru merasa perjalanan belum selesai. Capaian ini bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Reputasi harus dijaga. Mutu harus terus ditingkatkan. Etika publikasi harus ditegakkan. Kolaborasi harus diperluas. Dan yang paling penting, ruh keilmuan yang sejak awal hidup dalam Istinbath harus tetap dipelihara.
Terima kasih kepada para pengelola terdahulu yang telah menanam fondasi. Terima kasih kepada pimpinan yang telah memberi dukungan. Terima kasih kepada tim editor, reviewer, penulis, dan semua pihak yang telah berjalan bersama. Dalam setiap capaian, selalu ada nama-nama yang mungkin tidak tertulis di sampul jurnal, tetapi sesungguhnya ikut menyalakan lampu di dalamnya.
Istinbath telah menempuh perjalanan panjang: dari cetak ke digital, dari P-ISSN menuju E-ISSN, dari borang tiga dus menuju sistem daring, dari surat akreditasi yang belum menggembirakan menuju pengakuan nasional. Perjalanan itu mengajarkan satu hal: bahwa kerja akademik yang dirawat dengan cinta, kesabaran, dan kolaborasi, pada akhirnya akan menemukan pantainya.
Dr. Sakirman
EiC Istinbath: Jurnal Hukum
